Enam perupa gelar pameran lukisan ‘paper power’

Oleh: Ema Sukarelawanto - 23 December 2010 | 6:14 am

DENPASAR: MahaArt Gallery Sanur menggelar pameran bertajuk Paper Power yang menyajikan seni rupa di atas kertas karya seniman Chusin Setiadikara, Davina Stephens, Made Budhiana, Made Wianta, Mangu Putra dan Nico Vrielink pada 23 Desember 2010 hingga 22 Januari 2011 mendatang.

Pemilik MahaArt Gallery Agus Maha Usadha mengatakan penyelenggaraan pameran ini  untuk mengapresiasi dan menengok kembali karya di atas kertas yang semakin ditinggalkan dan kurang diminati pasar. ”Padahal karya di atas kertas tidak kalah berkualitas dan menyajikan substansi liar, liat, bebas, lepas dan tanpa tendensi apapun,” kata Agus kemarin.

Menurut Agus kemajuan teknologi, kebutuhan masyarakat terkini dan isu-isu lingkungan kian meminggirkan kertas dari perkehidupan sehari-hari, termasuk hadirnya buku digital dan gadget canggih seperti iPad yang semakin menggeser peran kertas di masa depan. Namun bagi seniman kertas tetap menjadi suatu keniscayaan.

Setidaknya bagi enam perupa seperti Chusin Setiadikara, Davina Stephens, Made Budhiana, Made Wianta, Mangu Putra dan Nico Vrielink yang hingga kini  masih tetap tekun dan konsisten berkarya di atas kertas. ”Mereka adalah seniman-seniman yang telah teruji dan memiliki reputasi di ranah seni rupa kontemporer yang tetaop meyakini bahwa kertas adalah instrumen penting,” tandas Agus.

Bahkan, keenam seniman tersebut sepakat bahwa kertas mempunyai kekuatan tersendiri sehingga menjadi dalih sahih bagi mereka untuk terus berkarya. ”Meskipun bukan yang utama, kertas kerap menjadi media pertama yang digunakan.”

Seniman Chusin, misalnya, mengaku berkarya di atas kertas lebih bebas, tidak terpengaruh unsur luar entah itu selera publik, kolektor, maupun pasar. Pengaruh tersebut sebenarnya tidak mutlak karena ada kalanya seniman beralih ke kanvas karena ingin melakukan penggalian, penjelajahan, dan improvisasi di ruang yang lebih luas. ”Yang jelas karya di atas mewakili aspirasi si seniman dan dipercaya sebagai karya murni,” kata Chusin yang akan menjadi narasumber dalam acara Artist Talk Show, 6 Januari 2011 di galeri ini.

Perupa Davina Stepehens termasuk perupa yang menyukai medium kertas dari yang supertipis (rice paper) hingga yang tebal. Kertas membantunya melakukan eksperimen dengan berbagai macam teknik gambar, lukis, dan cetak.

Media kertas juga memudahkan perupa kelahiran Selandia Baru yang lama mukim di Bali dan suka melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di dunia ini merekam berbagai pengalaman visual ke dalam karya rupa. Begitu juga Made Budhiana yang tak pernah meninggalkan peralatan gambar dan kertas ke manapun pergi.

Kertas dengan karakter daya serap yang tinggi terhadap bahan-bahan warna apapun dan goresan macam apapun, membuat Budhiana tertantang untuk masuk lebih dalam lagi, lebih bebas lagi. ”Kertas itu sederhana, sensitif dan menggairahkan,” kata Budhiana.

Bahkan, kertas mempengaruhi perupa Made Wianta terhadap caranya mengekspresikan kesenian. Beberapa karyanya yang merespons kertas kerap dipamerkan berupa sketsa, drawing, puisi, dan instalasi. Kata dia kertas memiliki efek, tekstur, serta kelenturan yang berbeda-beda dan memunculkan estetika lain yang tak terduga. Dia menyayangkan di bangku sekolah dan kuliah tidak banyak diajarkan berkarya menggunakan kertas. Selain itu studi tentang ilmu bahan juga langka sehingga banyak yang meragukan daya tahan kertas terhadap cuaca, cahaya, maupun kelembaban.

Penghayatan Mangu Putra terhadap kertas lebih mendalam. Imajinasi dan gagasan yang datang secara spontan bisa dengan cepat dipresentasikan di atas kertas. Ada sensasi tersendiri menggambar di atas kertas yang tidak didapat dari media lain. Media kertas menjadi wahana untuk melatih kelenturan tangan dan mengasah intuisi. Baginya, karya di atas kertas merupakan yang paling jujur dan orisinal. Karya ini memperlihatkan rekam jejak, kekuatan garis, dan emosi sang seniman. ”Ini seperti seseorang yang telanjang, polos, apa adanya, tanpa baju atau selembar benang pun, yang mungkin, menyembunyikan sesuatu dari tatapan orang lain,” kata Mangu.

Perupa Nico Vrielink dengan tegas mengatakan sanmpai kapanpun tak pernah abai dengan medium kertas. Meskipun banyak media yang menjanjikan kemungkinan eksplorasi lebih luas, dia tetap memilih kertas. ”Ya, karena media kertas itu lentur, simpel, dan praktis,” kata Nico (dw)

Leave a Reply

*