BIOGAS SAPI: Pemkot Batu Bangun Tiga Instalasi Di Sentra Peternakan

Oleh: Mohammad Sofii - 1 April 2012 | 8:25 pm

BATU: Pemkot Batu pada tahun ini akan merealisasikan tiga instalasi energi alternatif berupa biogas di Desa Tlekung Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Tlekung dipilih menjadi lokasi karena merupakan sentra peternakan sapi di Kota Batu.

Mukhlis, Kepala Lingkungan Hidup Kota Batu, menjelaskan di Kota Batu dalam 3 tahun terakhir sebenarnya sudah dibangun 18 instalasi biogas yang tersebar di sejumlah desa.

“Dan pada tahun ini kami akan menambah tiga lagi dengan alokasi anggaran per unitnya sebesar Rp20 juta-Rp30 juta,” ujarnya, Sabtu 31 Maret 2012.

Dia mengungkapkan untuk 18 biogas yang sudah lebih dulu dibangun tersebar di sejumlah desa seperti Desa Beji, Tlekung, Pesanggrahan, Bumiaji, dan Desa Oro – Oro Ombo.

“Sebagian besar dari desa tersebut merupakan basis peternakan sapi di Kota Batu.”

Setiap satu biogas, ujarnya, membutuhkan sedikitnya 15 ekor sapi yang bisa digunakan untuk lima kepala keluarga (KK) dalam memenuhi kebutuhan energi, seperti memasak dan penerangan.

Dia menambahkan menyusul keterbatasan anggaran pada tahun ini KLH hanya mendapat alokasi untuk membangun tiga biogas. Meski begitu, biogas dari kotoran sapi tersebut merupakan inovasi energi alternatif yang gencar dilakukan Pemkot Batu sejak 2 tahun terakhir.

“Harapannya penggunaan biogas dari kotoran sapi akan semakin marak dikembangkan oleh masyarakat. Mengingat teknologinya yang relatif murah dan terjangkau,” ujar Mukhlis.

Teknologi yang murah itu, lanjutnya, karena instalasi biogas dibangun dengan cara biodigester guna menampung kotoran dan urin sapi. Lubang digester yang terbuat dari bahan plastik akan menampung gas methana yang berasal dari kotoran sapi untuk selanjutnya dialirkan ke rumah warga dan bisa digunakan untuk kebutuhan energi sehari-hari.

“Sayangnya sebagian besar peternak sapi di Kota Batu lebih memilih menunggu program bantuan dari pemkot untuk membuat instalasi biogas tersebut.”

Karena kalau membuat sendiri, kata dia, sebagian besar masyarakat yang memiliki ternak
sapi masih merasa enggan. Hal itu karena masyarakat merasa sayang kalau sebagian lahannya digunakan untuk pembuatan instalasi biogas dengan dana sendiri.

Karena itu, menurutnya, peternak sapi di Kota Batu harus merelakan setidaknya lima meter dari total luas lahan peternakan yang dimilikinya untuk membangun instalasi biogas.

“Selain itu tingginya biaya yang dibutuhkan juga menjadi penyebab masyarakat enggan membuat biogas secara swadaya.”

Harusnya, tegasnya, masyarakat memiliki kesadaran tinggi untuk membangun biogas dengan biaya sendiri. Karena kalau seluruhnya menggantungkan dana dari pemkot jelas tidak mencukupi.

“Dengan mengolah kotoran sapi menjadi biogas diharapkan bisa meminimalisir potensi pencemaran lingkungan,” tambahnya.

Selain itu bila selama ini kotoran sapi banyak digunakan sebagai pupuk, pengolahan kotoran sapi menjadi biogas juga bisa menjadi energi alternatif bagi masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga mereka.

Karena itu dibutuhkan kemauan dan kerelaan warga untuk membangun biogas. Minimnya kemauan masyarakat menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemkot Batu.(bas)

Leave a Reply

*