FESTIVAL MALANG TEMPOE DOELOE Digelar 24-27 Mei
Oleh: Choirul Anam - 11 April 2012 | 9:51 pm
- 1179 views
- Tweet
MALANG: Malang Tempo Doeloe (MTD) VII yang akan digelar pada 24-27 Mei menjual tema Malang sebagai Kota Warisan Dunia yang merupakan langkah awal agar gagasan tersebut bisa menggugah kesadaran masyarakat dan pemerintah.
Dwi Cahyono, Ketua Yayasan Inggil, selaku penyelenggara MTD, mengatakan aspek yang ditonjolkan dalam tema Malang Kota Warisan Dunia terutama terkait dengan kebudayaannya.
“Kebudayaan terutama terkait dalam interaksi sosial, tidak melulu ekspresi seni,” ujarnya, Rabu 11 April 2012.
Menurutnya, masyarakat Malang dikenal sebagai etnik yang religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kawan dan daerahnya.
Dia memberikan contoh konkret sikap keguyuban itu. Saat ini ada rumah yang mempunyai nilai historis karena berarsitektur Malangan asli, dia mengetuk para filantropi untuk menyelamatkan warisan budaya dan berhasil. Rumah tidak jadi diubah arstitekturnya untuk kepentingan bisnis.
Dalam kegiatan tersebut, kata dia, juga dikenalkan kepada masyarakat terkait dengan karya-karya arstitekur khas Malangan dan menjadi legenda seperti karya-karya arsitek Henri Maclaine Pont.
Kelebihan dari Henri Maclaine Pont, lanjut dia, karyanya merupakan ujud dialog dengan kebudaya lokal. Karena alasan itu pula, bahan-bahan bangunan yang digunakan juga menggunakan bahan lokal, tidak mendatangkan dari Belanda.
Berbeda Herman Thomas Karsten yang meski karyanya tetap menghormati kultur lokal dan menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh, namun tidak mengharamkan mendatangkan bahan-bahan bangunan dari Eropa.
Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka. “Dia selain arsitek juga merupakan ahli perkotaan yang bervisi ke depan.”
Karya-karya Karsten terutama berbentuk kubus. Kebanyakan atapnya tidak menggunakan genting.
Visi progresif dari Karsten dalam membangun Kota Malang seperti membangun jalan lingkar di Rampal. Padahal, kata dia, saat itu jalanan di Malang masih lengang, tetapiu sebagai arsitek Karsten telah mengantisipasi perkembangan kota itu jauh-jauh hari.
“Kalau kita melihat foto-foto Jl Basuki Rachmat tempo dulu, sangat lengang. Hanya satu-dua kendaraan bermotor maupun sepeda pancal dan dokar yang melenggang.”
Dia mengakui, langkah untuk menjadikan Malang sebagai Kota Warisan Dunia masih jauh. Ada banyak langkah yang ditetapkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sangat ketat.
“Tapi setidaknya kami sudah memulainya lewat kegiatan Malang Tempo Doeloe. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini bisa menggungah menjadi kesadaran masyarakat dan pemerintah sehingga upaya menjadikan Malang sebagai Kota Warisan Dunia bisa terwujud.”(bas)
- 0 Comments
- 1179 views
Print