ANGGARAN PENDIDIKAN Diprediksi Naik Menjadi Rp316 Triliun
Oleh: Mohammad Sofii - 18 April 2012 | 4:21 pm
- 587 views
- Tweet
MALANG: Alokasi anggaran pendidikan pada 2013 diprediksikan naik menjadi Rp316 triliun melalui anggaran belanja negara perubahan (APBN-P), dari Rp289,95 triliun pada 2012.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ainun Na`im mengungkapkan anggaran pendidikan bisa sebesar Rp316 triliun, asalkan sama dengan yang dibahas dalam APBN-P selama ini.
Secara umum, APBN pada 2011 sebesar Rp1.320,75 triliun dan 2012 sebesar Rp1.435,40 triliun. Adapun anggaran pendidikan dalam APBN pada 2011 sebesar Rp266,94 triliun dan pada 2012 senilai Rp289,95 triliun.
“Sebagian besar alokasinya memang untuk daerah menyusul besarnya tanggung jawab pengelolaan pendidikan yang ada di daerah, mulai untuk gaji guru sampai perluasan akses (mutu) pendidikan,” ujarnya di Universitas Brawijaya, Malang, Rabu 18 April 2012.
Dia menjelaskan perluasan akses atau mutu pendidikan seiring dengan upaya pemerintah agar seluruh lapisan masyarakat bisa mendapatkan akses pendidikan, di antaranya melalui program peningkatan pendidikan sekolah menengah dari 9 tahun menjadi 12 tahun.
Pada kesempatan itu, Ainun mengungkapkan pemerintah akan me-review keberadaan sekolah-sekolah asing nondiplomat yang ada di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kurikulum yang diterapkan, apakah mengandung muatan pelajaran Indonesia di dalamnya, seperti pendidikan bahasa dan agama.
“Review terhadap sekolah asing yang bukan merupakan sekolah untuk para anak diplomat dilakukan, utamanya terhadap mereka yang menerima siswa dari anak Indonesia. Misalnya, sekolah di Sragen, Jawa Tengah.”
Selain itu, imbuh Ainun, pemerintah tidak akan mudah memberikan izin terhadap pendirian perguruan tinggi asing. Apalagi, Indonesia memiliki standar kualifikasi sendiri yang tidak kalah dengan asing. “Regulasi ataupun partnership harus sesuai dengan aturan yang kita miliki.”
Selain itu, Kemendikbud menghimbau agar peneliti Indonesia hati-hati dalam melakukan join research dengan peneliti asing. Utamanya dalam menyangkut hal-hal unik yang dimiliki Indonesia ternyata keahliannya justru dikuasai orang asing.
“Karena itu dalam melakukan objek penelitian harus mengedepankan hak cipta.”
Ekonom yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Sri Edi Swasono mengatakan tidak perlu universitas asing, seperti Harvard University ada dan berdiri di Indonesia. Namun, bagaimana mahasiswa asing belajar di perguruan tinggi di Indonesia.
“Bagaimana orang asing bisa belajar hujan tropis di Indonesia, dan pusatnya ada di Universitas Mulawarman. Demikian juga, belajar tentang laut dalam di Universitas Patimura, juga tentang tropical medicine,” jelasnya. (bas)
- 0 Comments
- 587 views
Print