SARANA WISATA: BATU Jajaki Pendirian Kereta Gantung

Oleh: Mohammad Sofii - 7 June 2012 | 5:54 pm

 

MALANG:  Kota Batu tengah  menjajaki  pembangunan  kereta gantung seperti di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Genting Highland, Pulau Sentosa, atau di Thailand, guna menggairahkan dunia pariwisata yang ada kota tersebut.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  Uddy Syaifudin mengatakan tidak menutup kemungkinan ke depan investor akan membangun kereta gantung di wilayah Kecamatan Bumiaji maupun di kawasan Gunung Panderman.

“Tiga daerah di Malang Raya yakni Kabupaten/Kota Malang dan Kota Batu  mempunyai prospek pengembangan bisnis pariwisata yang potensial   utamanya untuk pembangunan gedung dan infrastruktur jalan raya,”  ujarnya  dalam seminar Prospek Pengembangan Bisnis Pariwisata di Malang yang digelar Program Studi Bisnis Pariwisata Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis, 7 Juni 2012.

Dia menyebutkan  di Kota Batu  bisa  dibangun hotel berbintang yang mampu menampung hingga 4.000 tamu.  Untuk menghindari kemacetan solusi yang bisa ditawarkan  adalah  membangun jalan bebas hambatan dari Karang Ploso ke Lawang Kabupaten Malang ataupun dari Mojokerto ke Malang lewat Cangar Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

“Di Kota Batu rencananya juga akan dibangun kereta gantung.  Saat ini sedang dijajaki kemungkinan pembangunan kereta gantung tersebut seperi yang ada TMII, Genting Highland, Pulau Sentosa, ataupun Thailand,” tukasnya.
Adapun  untuk Kabupaten Malang seperti Kecamatan Karangploso dan Kasembon akan dibangun rest area. Jika terealisasi, keberadaan rest area  tersebut nantinya  dikembangkan ke wilayah Kota Batu.
Rest area tersebut bisa menjadi solusi bagi wisatawan yang terjebak saat berwisata ke Malang Raya. Pengembangan sektor bisnis pariwisata di Kabupaten Malang, lanjut dia, akan semakin maju menyusul rencana Bandara Abdulrahman Saleh menjadi bandara internasional.

Kepala Program Studi Bisnis Pariwisata UB Malang Djamhur Hamid menilai  potensialnya bisnis pariwisata di Malang Raya belum sebanding dengan jumlah kunjungan wisatawan yang relatif masih kecil, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

“Masih rendahnya tingkat kunjungan wisatawan tersebut salah satunya disebabkan karena kurangnya kreativitas terhadap pengembangan sektor pariwisata itu sendiri,” jelasnya.

Djamhur mencontohkan   bangunan piramid yang ada di Mesir sebenarnya masih kalah bagus jika dibandingkan dengan Candi Borobudur. Namun karena kreativitas Mesir dalam  menggunakan kecanggihan teknologi seperti pencahayaan pada piramid di malam hari–sehingga berubah menjadi warna keemasan–membuat piramida di Mesir lebih indah.” (if)

 

 

Leave a Reply

*