BISNIS PERBANKAN: Kinerja BPR di Malang Melambat

Oleh: Choirul Anam - 12 July 2012 | 5:22 pm

 

MALANG: Pertumbuhan penghimpunan dana pihak ke tiga (DPK) serta penyaluran kredit bank perkreditan rakyat  di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Malang sampai dengan Mei 2012 melambat,  tergilas oleh perbankan umum yang pertumbuhannya membaik.

Pemimpin KBI Malang Totok Hermiyanto, mengatakan sampai Mei BPR yang beroperasi di wilayah KBI setempat berhasil menghimpun DPK Rp946 miliar atau tumbuh 2,83% secara year to date (ytd) dan 6,77% secara year on year (yoy). Posisi DPK BPR sampai akhir Desember 2011 mencapai Rp920 miliar.

Dari sisi kredit sampai akhir Mei 2012, BPR berhasil menyalurkan Rp1 triliun atau tumbuh 7,78% secara ytd dan 10,34%.

“Adapun posisi DPK dan penyaluran kredit perbankan umum posisinya, relatif lebih baik daripada BPR secara year on year,” kata Totok Hermiyanto di Malang, Kamis (12/7).

Sampai Mei 2012, DPK perbankan umum mencapai Rp30,4 triliun atau tumbuh 4% dibandingkan posisi akhir Desember 2011 (ytd) dan 15,8% secara yoy. Sedangkan dari sisi kredit mencapai Rp22,549 triliun atau tumbuh 5,35% dan secara yoy 21,39%.

Dia menambahkan loan to deposit ratio (LDR) BPR sampai akhir Mei 2012 mencapai 112,83%, sedangkan perbankan umum 74,05%. Penyaluran kredit dan penghimpunan DPK, menurutnya, terkait dengan semakin agresifnya perbankan umum  lewat unit bisnis mikro menggarap sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang selama ini menjadi pangsa pasar BPR.

“Tapi sebenarnya hal itu tidak perlu terlalu dirisaukan BPR. Pasalnya masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri. Meski sama-sama menggarap UMKM, masing-masing mempunyai pangsa pasar sendiri-sendiri,” tegasnya.
Deputi Pemimpin KBI Malang Emanuel Lamen Ola  menambahkan agar BPR bisa semakin cepat dalam melakukan penyaluran kredit maka tidak bisa tidak harus menggarap secara serius penghimpunan DPK.
Namun, katanya, pangsa DPK untuk BPR tentu berbeda dengan pangsa perbankan umum. BPR harus jeli membidik pasar.

Menurutnya, dana di masyarakat sebenarnya banyak. Karena itulah, tergantung kejelian dari bank –utamanya BPR- dalam menarik dana masyarakat agar ditempatkan di lembaga keuangan tersebut.

Kejelian BPR dalam menangkap nasabah DPK,  lanjut Lamen, seperti mencari nasabah yang tidak rewel dalam meminta layanan teknologi informasi dari perbankan. Mereka tidak terlalu membutuhkan layanan perbankan yang canggih.

“Intinya, BPR harus mampu community base untuk penghimpunan DPK. Jika tugas itu mampu dilakukan BPR, maka mereka bisa melakukan ekpansi usaha, terutama dari sisi penyaluran kredit,” tegasnya. (if)

Leave a Reply

*