TANAMAN TEBU: Petani Malang Enggan Melakukan Ratun, Produktivitas Terancam Turun

Oleh: Mohammad Sofii - 12 July 2012 | 4:25 pm

 

 

MALANG: Produktivitas tebu di Kabupaten Malang terancam turun,  menyusul banyaknya petani yang enggan melakukan ratun (tanam baru dengan membongkar tanah dan menggunakan bibit baru).

Mohammad Gufron, petani tebu di wilayah Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang, mengungkapkan  banyak petani tebu yang tidak melakukan ratun karena alasan praktis atau tidak mau mengeluarkan biaya lebih.
“Tebu hanya dikepras saja, selanjutnya tidak diratun. Tentu saja produktivitas menjadi rendah,” kata Gufron kepada Bisnis di Malang, Kamis (12/7).

Selain produktivitas rendah, tanaman tebu yang tidak diratun dalam hal penggunaan pupuk juga akan meningkat. Dalam kondisi bagus, tanaman tebu seluas 1 hektare membutuhkan pupuk hingga 300 kg.  Jika tidak diratun penggunaan pupuk bisa meningkat hingga 50%.
Petani sengaja membiarkan tanamannya tidak diganti bibit baru maupun tidak membongkar tanah karena alasan keterbatasan anggaran. Untuk melakukan  ratun pada lahan seluas satu hektare misalnya membutuhkan dana tak kurang Rp10 juta yakni meliputi pembelian bibit, sewa traktor, dan tenaga kerja.

Selain ratun, fakta lain yang banyak dilakukan petani adalah mereka lebih memilih menyewakan lahan. Karena dengan menyewakan lahan, petani tidak perlu harus repot-repot mengeluarkan biaya untuk mengolah lahan maupun perawatan. Sementara keuntungan dengan menyewakan lahan juga cukup tinggi.
Kepala Bidang Usaha Pertanian Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Malang, Muhammad Arifin mengatakan disinyalir separuh lebih petani tebu di Kabupaten Malang tidak melakukan ratun. Sehingga produktivitas tebu maupun rendemennya rendah.

“Bahkan banyak bibit tanaman temu yang ditanam lebih dari lima kali musim tanam,” jelas dia.
Idealnya, menurut Arifin, maksimal lima tahun atau lima kali musim tanam, lahan diratun. Petani banyak yang belum memahami jika produktivitas tebu terhambat setelah melebihi lima tahun. Sehingga petani tidak membongkar tanaman tebu dengan bibit baru.

Kalangan  pabrik gula (PG) memberikan pinjaman lunak untuk kebutuhan ratun yakni mulai pengadaan bibit hingga sewa traktor untuk meratakan tanah.
“Rata-rata petani di Kabupaten Malang menggunakan bibit varietas BR dan POY. Selain produktivitas tinggi juga memiliki kadar rendemen yang tinggi,” ujar Arifin.

Total luas lahan tebu di Kabupaten Malang mencapai lebih dari 42.000 hektare meliputi wilayah Gondanglegi, Pagelaran, Bululawang, Pakisaji, Turen, Dampit, dan Kepanjen. (if)

Leave a Reply

*